Varin dan Cita Citanya

 Hai, namaku Varin. Ini adalah sedikit ingatan tentang perjalanan hidupku sejak masa taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama, serta cita-cita yang ingin kucapai.


Aku masih ingat dengan jelas saat pertama kali masuk TK. Tas ransel bergambar yang terlalu besar untuk tubuh kecilku terasa berat di punggungku. Namun, di balik berat itu ada semangat yang besar. Aku berjalan menuju sekolah dengan hati yang bahagia, karena bagiku sekolah adalah tempat bermain, belajar, dan bertemu teman-teman baru. Salah satu kenangan yang tak pernah kulupakan adalah ketika aku menari di stadion. Saat itu orang tuaku tidak bisa menemaniku berangkat, sehingga aku dititipkan kepada tetanggaku. Ketika acara selesai, aku kebingungan mencari orang-orang. Aku berjalan ke sana ke mari, takut dan hampir menangis. Syukurlah akhirnya aku bertemu dengan ibuku di depan sebuah toko baju. Rasa lega dan bahagia saat itu sulit kulupakan. Di masa itu aku bercita-cita ingin menjadi polisi atau pilot, karena menurutku pekerjaan itu keren dan bisa membuat orang bangga.


Waktu berjalan dengan cepat. Aku memasuki sekolah dasar dengan seragam merah putih yang kebesaran. Aku belajar menulis, membaca, dan menghitung. Papan tulis kapur dan deretan meja kayu menjadi saksi bagaimana aku berproses. Saat naik kelas lima, dunia berubah. Virus Covid-19 datang, membawa ketakutan dan kehilangan. Sekolah yang biasanya ramai mendadak sepi, diganti dengan layar ponsel dan laptop. Kami belajar daring dari rumah. Di situlah aku mulai berpikir ulang tentang cita-citaku. Aku ingin menjadi perawat, karena aku melihat banyak tenaga medis berjuang di garda terdepan untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Pandemi menjadi titik balik bagiku, karena aku ingin sekali membantu orang-orang yang sakit agar bisa sembuh.


Setelah lulus SD, aku masuk SMP. Perubahan besar kurasakan. Di sinilah aku mulai mencari jati diri. Aku mencoba ikut ekstrakurikuler agar bisa menambah teman dan pengalaman. Masa SMP penuh dengan tawa, tangis, serta pelajaran berharga tentang persahabatan dan tanggung jawab. Namun ada satu hal yang membuatku sedih: pemerintah meniadakan acara wisuda. Padahal, aku dan teman-temanku sudah lama menunggu momen itu. Rasanya kecewa sekali, tapi aku belajar menerima bahwa tidak semua harapan bisa terwujud. Cita-citaku di masa SMP tetap sama: aku ingin menjadi perawat, dan kalau belum berhasil aku ingin mencoba menjadi apoteker.


Kini, aku sudah berada di jenjang yang lebih tinggi. Jurusan yang kupilih memang jauh dari cita-citaku, tetapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku masih bisa mengikuti ekstrakurikuler PMR. Dari kegiatan ini, aku tetap belajar tentang kesehatan dan pertolongan pertama. Walaupun tidak sesuai rencana awal, aku percaya jalan untuk mengejar cita-cita itu belum benar-benar tertutup. Aku hanya perlu berusaha lebih keras, sabar, dan percaya bahwa selalu ada jalan jika kita sungguh-sungguh.


Jika suatu saat nanti cita-cita itu terwujud, aku akan bersyukur kepada Tuhan, berterima kasih kepada kedua orang tuaku, dan juga menghargai diriku sendiri yang tidak pernah berhenti berusaha. Aku membayangkan diriku mengenakan seragam putih perawat, berdiri dengan tenang, siap siaga membantu pasien yang sakit. Mungkin perjalananku berliku, tetapi aku percaya setiap langkah kecil yang kuambil hari ini akan membawaku mendekat ke impianku di masa depan.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Risky alya ramadhani/17

Varin isnani nur haliza(28) x rpl 3